Pada abad ke 12 silam, sejarah telah mencatat betapa jayanya Islam dan piranti-piranti keagamaan lainnya. Islam sebagai jalan hidup maupun pandangan hidup mampu terjawab pada anad 12 yang terkenal dengan masa kejayaan Islam, hal ini ditengarai pada kota Cordoba dan Sevila. Keduanya adalah dua kota terbesar yang menjadi saksi sejarah kejayaan islam. islam menampilkan sosok yang ramah, moderat, toleran serta mampu bersanding, duduk dan makan bersama dengan agama lain tanpa adanya diskreditisme satu dengan yang lainnya.

Bahkan, Cordoba saat itu menjadi salah satu kota pusat peradaban dan kebudayaan terbesar dunia menyaingi Baghdad maupun Konstantinopel. Sekali lagi, kita harus belajar pada sejarah yang telah memberikan pandangan untuk selalu modern dalam berbagai aspek kehidupan. Islam adalah kemodernan dan nilai-nilai dari ajaran Islam masuk dalam ruang lingkup kontekstualisasi berbagai sektor kehidupan.

Perkembangan pesat di Cordoba dari eksisnya selama berabad-abad menjadi pusat peradaban ditandai dengan urbanisme yang pesat, perkembangan sains dan seni yang menarik minat dan kemauan generasi muda Afrika maupun Eropa. Mereka berbondong-bondong ingin menguras apa yang telah dilakukan oleh para penguasa cordoba dan mempunyai misi abadi yaitu menghancurkan Islam meskipun dengan alih-alih belajar.

Kemegahan-Masjid-Cordoba-Bu

Saat itu, Cordoba menjadi icon favorit negara Amerika, Eropa, India dan seantero jagad raya. Di dalamnya, sang penguasa membangun dan membanggakan landmark (sebutan untuk taman, kebun yang mudah diingat serta mudah untuk dijangkau oleh berbagai kalangan), masih terjaganya meddina (kota tua), Alcazaba ( dari bahasa arab alqasabayang berarti ketedral), great Mezquita (secara harfiah berarti masjid namun lambat laun berubah fungsi menjadi katedral) dan madinat al zahra ( versaill-nya cordoba)[1].

Cordova hadir di tengah kelamnya sejarah peradaban dunia. Banyaknya warisan nenek moyang dari agama lain yang secara kontinuitas menghegemoni tanpa kenal ara melintang. Semuanya menghantui pandangan masyarakat atas apa yang disebut dengan eksistensi keutuhan peradaban. Peradaban cordoba[2] khususnya masyarakatnya hidup dalam ketengan jiwa, kebahagiaan yang memuncak derasnya, angin segar dihirupnya beserta bau harum pinggiran kota. Kota yang terkenal dengan jalanan beraspal, pemandian umum, penerangan jalan, tempat-tempat hiburan[3] serta pementasan puisi dan musik yang rutin digelar setiap minggunya.

ilustrasi-_120904190116-621

Pada abad itu juga, cordoba terkenal dengan kota yang terkenal dengan kemakmuran ekonominya, aspek kulturalnya serta moderatnya sangat luar biasa dan bidang intelektual pun tidak bisa diragukan adanya. Kurang lebih 17 perpustakaan dengan berbagai macam buku ilmiah dengan spesifikasi berbagai macam bidang keilmuan sehingga kota cordoba layak untuk dijuluki  sebagai kota permata dunia. Banyak ilmuan mendedikasikan dirinya dengan mengajar di istana-istana khalifah dan masjid-masjid di kota untuk mengembangkan keilmuan serta menunjukkan peradaban islamnya di berbagai nuansa kehidupan. Mereka adalah penopang peradaban cordoba di samping eksistensinya para penguasa. Dianataranya, Ibnu Bajjah (Avempace) Ibnu Tufail, Al-idrissiy, Ibnu ‘Arabiy dan Ibnu Rusyd (Averroes ).

Semoga generasi muslim sekarang bisa memetik peradaban cordoba sekaligus mengembangkannya demi kejayaan Islam nusantara. Wallahu a’lam.

 

[1] Nidhal guessoum. Islam dan sains modern. Mizan. Jakarta. 2014. Hal 07

[2]  Penulis lebih menggunakan peradaban cordoba karena cordoba lah penunjang segala manifestasi dari multi budaya maupun pelajaran berharga atas adanya sejarah islam yang sampai sekarang kurang di perhatikan oleh generasi muda muslim. Kendati demikian, peradab cordoba semakin menunjukkan kemegahannya sebagai peradaban dengan mercusuarnya para tokoh dunia, Ibnu Bajjah yang menonjolkan berbagai pandangan aristoteles dan menuntut muridnya, Ibnu Rusyd untuk melakukan pembacaan mendalam dalam hal keilmuan agar bisa melampui batas maksimun alur pemikiran failusuf besar yunani dan Ibnu Tufail yang lebih menekankan pada kekuatan murni akal dan memperkenal ibnu rusydi kepada khalifah Yusuf ibn ‘Abd al-Mu’min. Lihat Nidhal guessoum. Islam dan sains modern. Mizan. Jakarta. 2014. Hal 13

[3]  Inilah beberapa peninggalan dinasti abasiyyah yang saat itu berkuasa di Cordoba. Kota yang megah dan amat sangat cantik telah mewarisi kepada genarasi sekarang khususnya era milineum terbaru dengan berbagai hal. Kita sering melihat kerlap-kerlipnya penerangan jalan dengan berbagai gaya arsitekturnya yang dipoles, jalanan beraspal, pemandian umum tempat-tempat hiburan. Pemahaman seperti ini harus ditanamkan pada jiwa pemuda agar mereka mempunyai kesadaran bahwa Islam pernah jaya di masa lalu dan akan berjaya lagi di era sekarang.

by Eko David (2014)

LEAVE A REPLY