MBI Amanatul Ummah dan Spirit Kebangsaan

219

Indonesia merupakah salah satu negara sangat subur, hetrogenitas suku-budaya agama, berbagai macam ras dan suku bahkan Indonesia mendapat julukan negara khatulistiwa. Indonesia dengan segala keanekaragaman yang tumbuh pesat menyisakan banyak harapan dan cita-cita mulia, yaitu bagaimana kita sebagai generasi muda mampu menjaga kebhinekaan ini dengan arif-bijaksana sehingga menumbuhkan spirit cinta tanah air secara tidak langsung. Menurut saya, Indonesia adalah tempat lahir kita, tempat mencari makan, tempat mencari sebongkah ekonomi, tempat mengadu nasib dan tempat bersujud kita kepada sang Khaliq. Tidak butuh dalil kitab suci pun, semua yang merasa dilahirkan di bumi Indonesia akan menyatakan cinta tanah air. Pasti !

Cinta tanah air menurut hemat saya adalah sifat naluriah  yang menjadi keniscayaan setiap warga indonesia tanpa melihat suku-agama. Selama dilahirkan dan tumbuh–kembang di negara Indonesia, maka secara otomatis dalam diri jiwanya melekat tanggungjawab untuk mencintai tanah lahirnya. Tidak perlu didiskusikan maupun diperdebatkan karena mencintai tanah lahirnya adalah sifat alami manusia ketika dilahirkan di muka bumi. Kondisi demikian, kita perlu melihat lagi bagaimana santri pesantren mencintai Negara Indonesia dengan cinta tanpa syarat. Ya. Cinta tanpa syarat. Begitupun juga santri MBI Amanatul Ummah. Tidak butuh rangakian kata dan argumentasi untuk mencintai negara indonesia sebagai tempat kelahiran kita bersama.

Santri MBI Amanatul Ummah sadar betul bahwa dinamika perjalanan panjang sejarah Indonesia yang meliputi penjajahan bidang ekonomi, budaya, sosial dan politik menjadi catatan panjang sejarah kita sebagai santri pesantren. Kita sebagai penggerak roda kemerdekaan sangat hafal betul bagaimana Belanda datang ke Indonesia atasnama perdagangan pada tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Puncaknya terjadilah penjajahan, penjarahan serta eksploitasi di berbagai sektor. Tak hanya itu, selang beberapa abad setelahnya, tepat pada 11 Januari 1942 Jepang datang dengan membawa misi tertentu. Inilah puncak pemberontakan santri karena melihat Sang Kiai, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ariy dipaksa untuk menyembah matahari sebagai Tuhan. Ditambah lagi keberadaan PKI yang banyak melukai hati santri dan pesantren dengan segala perbuatan yang dilakukan. Sederet kejadian masa lalu membuat jiwa santri wabil khusus MBI Amanatul Ummah sebagai lembaga pendidikan untuk tetap berada di garis depan mempertahankan Indonesia dari segala serangan luar yang mengancam keutuhan NKRI sebagai negara berdaulat melalui jalur pendidikan

Berkaitan dengan istilah santri, Mustaqim dalam Jurnal Politik Kebangsaan Kaum Santri; Studi atas Kiprah Politik NU mengurai  santri tidak hanya difahami sebagai orang mencari ilmu di pesantren, tetapi santri mempunyai makna kontekstual yang sangat dinamis dengan situasi zaman. Salah satunya adalah ummat islam yang memiliki pemahaman yang kuat. Tak hanya itu, karakter santri memiliki ketaatan yang sangat kuat terhadap seorang kiai. Ketaatan ini sebagai wujud sikap beragama dimana kiai akan dipandang sebagai orang yang memiliki banyak ilmu agama dan pemahaman kitab suci secara baik. Bahkan, tidak jarang, perintah kiai akan menjadi kalam suci untuk dilaksanakan tanpa tawar-menawar maupun negosiasi. Lebih-lebih perintah kiai tentang jihad untuk membela Bangsa dan negaranya seperti apa yang dicerminkan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ariy kepada santri Nusantara yang dalam sejarah indoneisa terkenal jargon Hubbul Waton Minal Iman sebagai cambuk semangat lahir batin.

Tak sampai di situ saja, eksistensi santri dalam pertautan politik kebangsaan sangat besar jasanya. Diantaranya adalah bagaimana seorang santri membicarakan dengan serius status negara Indonesia yang saat itu menjadi perdebatan. Hingga akhirnya pada muktamar XI 1938 di Banjarmasin, santri dengan wadah organisasi NU memutuskan bahwa negara dan tanah air wajib dijaga. Saat muktmar juga diputuskan bahwa sesungguhnya negara Indonesia merupakan negara islam, Darr Al Islam.

Sungguh pun demikian, peran santri tak hanya selesai begitu saja. Munculnya resolusi jihad di belantika tanah air menjadi bukti nyata bagaimana santri dengan segala atribut sarungnya berkomitmen untuk merebut, mengisi dan mempertahankan kemerdekaan dengan darah dan nyawa akan dipertaruhkan sedemikian rupa.  Secara umum, tegas Mustaqim, isi resolusi jihad mengisyaratkan dua kategori dalam berjihad. Pertama, fardhu ‘ain bagi setiap orang yang berada dalam radius 94 KM dari epicentrum pendudukan penjajah. Kedua, fardhu kifayah bagi warga yang berada di luar radius tersebut. Namun, dalam kondisi tertentu dan darurat, maka bisa dinaikkan statusnya menjadi fardhu ‘ain.

Seperti yang jamak diketahui bahwa resolusi jihad adalah respon nyata terhadap gerakan massif tentara Inggris di Surabaya yang puncak pertempurannya terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pada saat itulah, santri di berbagai daerah di Jawa timur bahu membahu dengan bacaan dan azimat diberikan kiai khos melawan militer Ingris hingga pada akhirnya tentara Inggris harus angkat kaki dari indonesia.

Di samping pengusiran penjajah dan resolusi jihad, penerimaan pancasila sebagai asas tunggal di Situbondo menjadi bukti bahwa NU, pesantren dan santri tidak akan mempermasalahkan pancasila sebagai ideologi Bangsa Indonesia.  Perjalanan yang demikian panjang santri dan pesantren adalah bukti nyata nasionalisme santri tidak perlu dipertanyakan lagi. Santri dan nasioalisme ibarat suami istri yang tidak akan bisa dipisahkan sampai kapanpun.

Kendati demikian, tantangan santri hari ini adalah bagaimana santri mengisi beberapa sektor bahkan harus menjadi ikon utama. Bagaimana santri iku andil dalam merawat kebhinekaan dengan cara menghargai seuabh perbedaan tanpa harus memandang sebelah mata, pun dengan menyebarkan paham ajaran agama yang tetep menyejukkan semua kalangan. Inilah tantangan santri era saat ini di samping arus modernitas tidak bisa dihindarkan.  Keberadaan aksi teror, hatespeach dan ujaran kebencian yang mencoba meruntuhkan negara menjadi tugas mulia dewan guru MBI Amanatul Ummah maupun para santri untuk terlibat aktif dalam menyebarkan nilai nilai positif khususnya ajaran islam yang penuh cinta kasih.

Sebagai penutup akhir tulisan, saya sepakat dengan pernyataan Iffan Ahmad Gusfron dalam jurnal Santri Dan Nasionalisme bahwa peran dan kontribusi pesantren dalam membangun dan mempertahankan tanah airnya, negaranya tidak dapat lagi dipertanyakan. Kehadirannya dalam setiap peristiwa perjalanan bangsa indonesia baik dari masa pra kemerdekaan, masa kemerdekaan dan pasca kemerdekaan menjadi bukti otentik dari keterlibatannya dalam membangun negeri. Keberadaan dan keterlibatan dalam setiap bidang baik politik, ekonomi, pendidikan, militer dan sebagainya menjadikannya nasionalis sejati yang cinta pada tanah airnya. Wallahu A’lam

Penulis : Ustd. Eko David, S.S., M.Pd
Wakil Ketua Kepesantrenan PP. Nurul Ummah, MBI Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto