Oleh: Samsul Huda

Visi Pondok Pesantren (PP) Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, adalah terwujudnya manusia yang unggul, utuh, dan berakhlaqul karimah untuk kemuliaan dan kejayaan Islam dan kaum muslimin, kemuliaan dan kejayaan Islam seluruh bangsa Indonesia dan untuk keberhasilan cita-cita kemerdekaan. Sedangkan misinya adalah melaksanakan sistem yang berlaku di Lembaga Pendidikan Unggulan Amanatul Ummah secara ketat dan tanggung jawab.

Dalam rangka mengawal visi dan misi tersebut, maka program rapat dan musyawarah menjadi suatu kewajiban dan keharusan sebagai pengamalan perintah agama seperti petikan surah Asy-Syura dan Ali Imran berikut.

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka”, Q.S. Asy-Syura: 38.

 وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”, Q.S. Ali Imran: 159

Di PP Amanatul Ummah Pacet, terdapat banyak lembaga pendidikan. Contohnya SMP BP dan SMA BP yang berbasis pesantren. Selain itu ada MTs dan MA-CI (Cerdas Istimewa). Serta MTs dan MA excelent (program dua tahun). Saya pribadi sejak tahun 2013 mengabdi  di lembaga MBI-AU (Madrasah Bertaraf Internasional-Amanatul Ummah). Oleh karena itulah, saya tahu benar musyawarah telah menjadi budaya di tempat saya mengabdi.

Selain menjadi budaya, bisa dibilang bahwa musyawarah adalah ruh dari lembaga pendidikan berbasis pesantren ini. . Musyawarah tersebut bisa berupa raker (rapat kerja) tahunan se-yayasan, raker tahunan per-lembaga, rapat dua atau tiga bulanan seluruh guru selembaga, rapat khusus ustadz muadalah, rapat khusus guru formal dua atau tiga bulanan, rapat mingguan seluruh fungsionaris (kepala dan wakil kepala) lembaga setiap Rabu malam, rapat MGMP, rapat-rapat dadakan (sewaktu-waktu tergantung kebutuhan), dan masih banyak rapat yang lain. Untuk rapat fungsionaris setiap Rabu malam, dimulai rata-rata pukul 21.00 hingga tengah malam.

Budaya musyawarah yang telah terbentuk membuat setiap kendala atau problem yang muncul bisa segera terdeteksi dan bisa dicarikan solusi secepatnya, sehingga penyelesaiannya bisa tepat dan cepat. Usulan-usulan dan masukan-masukan bisa disampaikan lewat rapat-rapat tersebut. Semangat kebersamaan dalam mengawal hasil dan keputusan rapat, mampu membawa PP. Amanatul Ummah Pacet–yang dirintis sejak tahun 2006–berkembang sangat pesat hingga sekarang, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dan saya bangga menjadi bagian dari perkembangan itu.

Dahsyatnya lagi bahwa setiap rapat dewan guru selalu diawali dengan istighosah, terlebih apabila bersama Romo Kiai (Prof. Dr. KH. Asep Syaifuddin Chalim, M.A.) sebagai pendiri dan pengasuh. Kalau Romo Kiai hadir saat rapat, beliau yang langsung memimpin istighosah, tanpa harus ada pembawa acara. Setelah istighosah, beliau langsung memberi wejangan-wejangan dan nasihat-nasihat untuk kemudian menutupnya dengan do’a. Sedangkan, kalau dalam rapat guru lupa tidak membaca istighosah, maka istighosah diselipkan di tengah-tengah acara.

Mengapa istighosah begitu penting dan menjadi keharusan? Karena kami menyadari bahwa begitu lemah dan tak berdayanya manusia di hadapan Allah Swt. sementara keinginan agar terwujudnya cita-cita, visi, dan misi begitu tinggi dan mulia. Hanya izin dan perkenan Allah semata yang mampu mewujudkannya.

—oOo—

#Series Embun Kembangbelor 1

Penulis adalah santri PP. Roudlotunnasyi’in (Beratkulon,Kemlagi, Mojokerto), santri PadhangmBulan (Mentoro, Sumobito, Jombang), dan santri PP. Amanatul Ummah (Kembangbelor, Pacet, Mojokerto).