Ribuan santriwan dan santriwati Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur terlihat tidak sabar menanti kedatangan salah satu Staf Khusus (Stafsus) Presiden Joko Widodo, Adamas Belva Syah Devara. Mereka rela jalan kaki sepanjang kurang lebih dari 3 km dari Pesantren Nurul Ummah sampai tempat dilaksanakannya acara.

Adamas Belva Syah Devara hadir dalam acara Inspirasi Nasional (IPNAS) pada Senin (17/2) untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada para santri. Acara ini dibuka langsung oleh pengasuh Pesantren Amanatul Ummah, Dr KH Asep Saifuddin Chalim di Guest House Institute KH Abdul Chalim.

IPNAS merupakan salah satu dari serangkaian acara MBI Big Fair ke-11, sengaja menghadirkan Belva karena melihat di usia yang masih relatif muda sudah memiliki prestasi yang cemerlang dan berdampak bagi masyarakat. Belva berhasil memimpin sebuah perusahaan startup teknologi asal Indonesia yang berfokus pada pendidikan. Selain itu, sekarang ia juga memiliki peran ganda sebagai Staf Khusus Millenial Presiden Joko Widodo.

Acara Inspirasi Nasional yang dipimpin oleh Faris Hadiningrat dan Ella Jayahuda sebagai moderator berlangsung sangat menarik. Belvapun share berbagai pengalaman sejak di bangku SMA hingga berhasil kuliah di berbagai kampus di luar negeri dalam waktu yang bersamaan.

“Keberhasilan dalam diri saya sangat dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu usaha ekstrem, doa ekstrem, dan sedekah ekstrem,” ungkap Belva.

Selanjutnya, CEO Ruang Guru ini juga menjelaskan bahwa setiap kali Belva akan menjalani ujian, maka ibunya akan mencari musala terdekat dengan tempat ujian Belva dan akan melaksanakan sholat hajat di setiap pelajaran yang diujikan.

Sosok pemuda yang dulunya aktif berorganisasi dan berhasil menjabat sebagai ketua OSIS SMA Presiden Jakarta ini juga dinobatkan sebagai siswa berprestasi.

“Mas Belva ini ketua OSIS dan juga peringkat pertama lo di kelas,” tandas moderator, Ella. Sontak tepuk tangan audiens bergemuruh baik yang ada di dalam ruangan maupun di luar ruangan.

Otomatis, hal tersebut menjadi teladan yang menarik bagi santri MBI yang digembleng agar getol berorganisasi tapi secara akademik juga tetap berprestasi.

“Jadi, gini, kalau saya pertama harus manajemen energi, bukan menejemen waktu. Karena, waktu itu setiap harinya sama, 24 jam. Sedangkan, energi yang kita miliki bisa saja naik turun. Lalu, list apa saja yang akan kalian lakukan,” Belva berbagi tip. Beberapa santri putra maupun putri serius mencatat.

Belva menambahkan tipnya, setiap santri harus memiliki goal dan melakukan usaha tanpa kompromi. Terakhir, yang tidak kalah penting, setiap santri harus mencintai apa yang dilakukan dan apa saja yang dipelajari. Dengan rasa suka, semua yang dipelajari akan terasa mudah.

Dengan segudang prestasi yang berhasil diraih, Belva tidak ingin merasa pintar. “Kegagalan terbesar saya adalah ketika saya merasa pintar,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY