Wanti-wanti Romo Kiai #Embun Kembangbelor 3

327

Oleh: Samsul Huda

Kitab kuning, Ta’limul Muta’allim karangan Al-syekh Al-Zarnuji yang disyarahi oleh Al-syeh Ibrahim Bin Ismail digugat. Salah satu kitab klasik ini dipertanyakan dan dikritisi oleh kalangan kaum terpelajar muslim era tahun 2000-an.

Mereka yang memang bukan dari kalangan santri pondok pesantren itu mempertanyakan relevansi keilmuan   kitab yang diajarkan di berbagai pondok pesantren NU di seluruh dunia. Hal-hal yang menjadi target serangan mereka selain relevansi adalah kelayakan dan rasionalitasnya.

Bahkan mereka mengajukan pertanyaan sinis, apakah kitab itu justru akan mengganggu proses kreativitas dan kemajuan santri dalam interaksi pergaulan global?

Sinisme itu dijawab tegas oleh pondok pesantren salaf dengan tidak memerlukan publikasi  dalam bentuk ketekunan dan konsistensi untuk tetap mengajarkannya di kalangan para santri hingga sekarang.

Sejak tahun 2005 sampai hari ini, saya mendapat amanat mengisi darsu al-am (pengajian umum) kitab Ta’limul Muta’allim kepada seluruh santri putra-putri di pondok pesantren Roudlotun Nasyiin Beratkulon. Sebuah pondok tempat saya nyantri dulu. Di samping itu, saya pernah menjadi pengampu mapel kitab tersebut di Muadalah MBI Amanatul Ummah Kembangbelor.

Di pondok pesantren Amanatul Ummah, kitab ini menjadi mapel wajib yang harus diajarkan, difahamkan dan dipraktekkan sekaligus dibudayakan di pondok. Bahkan menjadi metode dan strategi sekaligus manhaj untuk  menggapai sukses hidup  dunia dan akhirat.

Sukses itu bukan menjadi apa. Tetapi ketepatan melihat dan menganalisis  sesuatu untuk kemudian memberikan respon secara presisi. Kesuksesan tidak membatasi ruang lingkup profesi namun lebih pada sikap nyata yang berintegritas dan amanah dalam menjalaninya. Definisi sukses lainnya adalah ketika sebagai manusia kita mampu memberi kebermanfaatan kepada sesama tanpa harus merendahkan dan menafikan mereka.

Sukses adalah satu situasi dimana kita mensyukuri apapun yang kita punya dan raih serta ridho atas ketetapan Allah Swt. .

Untuk menjadi manusia yang sukses dunia akhirat, maka pendiri dan pengasuh pondok Pesantren Amanatul Ummah Prof. DR. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA  mencanangkan 7 kunci sukses yang harus dilakukan dan diamalkan oleh seluruh sivitas akademika di pesantren ini. The seven keys of success ini digali dan diambil dari khazanah kitab salaf, Ta’limul Muta’allim.

Adapun ketujuh kunci sukses itu adalah :

  1. الجد والمواظبة / diligence & persistence Bersungguh-sungguh dan ajeg, terus menerus tanpa henti
  2. صلاة الليل (night prayers) sholat malam
  3. تقليل الغداء (lessening meals) menyedikitkan makan
  4. مداومة الوضوء (accustomed-ablution) menjaga wudlu. Selalu dalam keadaan suci.
  5. قراءة القرآن نظرا (reciting AL-Qur’an). Selalu membaca Al-Qur’an dengan melihat langsung, bukan dengan hafalan.
  6. ترك المعاصي (leaving illegal action), meninggalkan maksiat.
  7. ان لا يأكل طعام السوق (avoiding market food), tidak makan jajanan pasar (tidak membeli makanan di luar pondok pesantren)

 

Penulis saat foto didepan poster 7 kunci sukses Amanatul Ummah

Ketujuh kunci sukses ini tidak sekedar jargon. Tidak sekedar lip service. Tetapi benar-benar suatu komitmen. Janji dan ikrar diri. Ini bisa dilihat dan ditelusuri dari jejak lulusan kelas dua belas yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Hampir 100% mereka melanjutkan kuliah dan mayoritas mereka diterima di perguruan tinggi dan universitas yang mereka dambakan,  dalam maupun luar negeri. Tugas lembaga adalah mengantarkan dan memastikan para alumni diterima di jurusan dan universitas yang mereka impikan.

Itulah “pusaka” yang secara simultan diwariskan dari satu generasi santri ke generasi selanjutnya.

—oOo—

Penulis adalah santri PP. Roudlotunnasyi’in (Beratkulon, Kemlagi, Mojokerto), santri PadhangmBulan (Mentoro, Sumobito,  Jombang), dan santri PP. Amanatul Ummah (Kembangbelor, Pacet, Mojokerto).